MISI

***************** A MAN WHO WANT TO CREATE AN EDEN IN THE WORLD *****************

Senin, 07 Juni 2010

VIDEO MESUM (MIRIP, SAMA ATAU PERSIS) ARIEL DAN LUNA MAYA ?

Gonjang ganjing jagat Nusantara dengan beredarnya video mesum secara berantai, memunculkan berbagai sikap dan tanggapan baik yang tegas, samara atau sekedar berbasa-basi. Ketika seorang Facebooker mengirim message, dengan deskripsi “Karya Indah Dua Anak Bangsa………” dalam benak saya muncul dugaan oh mungkin video klip terbaru dari album baru mereka. Begitu diklik dan loading, masya allah ! semua di luar dugaan.

Deskripsi video ini memang berbeda dengan judul-judul di mass media pada umumnya, yang, walaupun menyatakan menganut keterbukaan pers namun tetep saja berusaha menghindar dari konsekuensinya, kalau boleh dibilang lebih kea rah lempar batu sembunyi tangan. Lempar batu dengan penayangan gambar dengan wajah yang benar-benar nampak dan kita bias menilai itu wajah siapa. Sikap sembunyi tangan ditunjukan dengan penambahan atribut “mirip” dalam judul-judul atau isi ulasan beritanya.

Pemakaian kata “mirip” menurut hemat penulis sungguh dipaksakan, karena mengurangi makna isi uraiannya yang mencoba meyakinkan bahwa pelaku dalam video mesum itu adalah orang-orang yang disebut dibelakang kata “mirip”

Jika boleh memilih, menurut hemat penulis kata yang tepat untuk mewakili berbagai bukti yang ada adalah “Persis” . Persis, tetap mendeskripsikan bahwa “obyek” dimaksud “bukan obyek sesungguhnya”, senada dengan mirip tetapi sudah menggambarkan grade yang lebih tinggi, artinya kemiripan-kemiripannya sudah banyak (akurasinya lebih persisi).

Dengan demikian, judul atau pernyataan yang tepat untuk menggambarkan bahwa obyek itu lebih 90 % sama dengan obyek sesungguhnya, kata yang tepat adalah “Video Mesum Persis A, B atau C”. Jika gambar yang ada 99 % sama dengan Ariel, Luna atau Cut, kalimat yang tepat adalah : “Video mesum Persis Ariel dan Luna” atau “Video Porno Persis Ariel dan Cut Tari”.



BAHASA MENUNJUKAN JIWA BY DARWONO




Pendahuluan

Coba perhatikan jawaban peserta didik kita dalam merespon pertanyaan kita. Sebagai misal , ketika kita tanyakan mengapa mereka pada jam pelajaran justru meninggalkan kelas. Mungkin ada yang yang menjawab :
“ Saya harus rapat OSIS”
“Saya harus menbagikan brosur PSB”
“Saya harus ikut acara keluarga” dan sejenisnya.
Jawaban-jawaban seperti di atas mengindikasikan pribadi yang tidak berdaya terhadap rangsangan dari luar. Stimulus dari luar menjadi penentu atas apa yang mereka lakukan.

Karena sikap dan perilaku kita mengalir dari paradigma kita, maka jika kita menggunakan kesadaran diri kita untuk memeriksa sikap dan perilaku tersebut, kita sering dapat melihat sifat dari peta yang mendasari kita. Sebagai contoh, bahasa kita adalah indikator yang sangat riil mengenai tingkatan kita memandang diri kita sebagai orang yang proaktif.

Al Qura’an dan Diksi (Pilihan Kata)

Ketika kita membaca Al Quran Surah Al Baqoroh ayat 104 yang artinya : Wahai orang-orang yang beriman ! Janganlah kamu katakana Ra’ina, tetapi katakanlah , “Unzurna” dan dengarkanlah. Dan orang-orang kafir akan mendapat azab yang pedih.
Makna ayat di atas sangat jelas, dan kandungan pelajaran pemilihan kata (Diksi) yang ada di dalamnya juga sangat eksplisit. Ini menunjukan bahwa pilihan kata, bukanlah hal yang remeh-temeh, karena kata mengandung konsep, konsep mengandung pengertian, mengandung definisi, yang akhirnya sangat menentukan formulasi (rumus) dan derivasi serta aplikasinya dan konsekuensinya.

Jika kita ingin belajar bagaimana diksi itu sangat diperhatikan, maka Al Quranlah sumbernya. Al Quran sangat tepat kapan menggunakan kata ja’ala, kapan menggunakan kholaqo, meski kadang kedua kata ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai “menjadikan”, tetapi sesungguhnya berbeda. Pada Tahap Penciptaan, misalnya, Iblis diciptakan dari api, manusia diciptakan dari tanah (Kholaqtahu minthiin, khloaqtainii minnar). Namun ketika tahap berikutnya tentang pengangkatan Adam sebagai kholifah, maka diksi yang dipakai adalah ja’ala. Masih banyak contoh-contoh lain yang menunjukan bahwa Diksi sangat penting bagi Al Quran, sekaligus memberi pelajaran bagi kita bahwa masalah pilihan kata (Diksi) bukanlah hal yang remeh temeh.

Bahasa Menunjukan Bangsa

Kata-kata mutiara tersebut dimaknai sebagai bahasa yang digunakan oleh seseorang menunjukan kebangsaan itu sendiri. Karena setiap bangsa memiliki karakter masing-masing, maka dapat dikatakan, bahasa yang digunakan oleh seseorang menunjukan karakter orang tersebut. Bagi orang Jawa sangat jelas baha bahasa, ucapan, sangat menentukan jati dirinya, “Ajining diri gumanthun saka ing Lathi”, demikian pitutur bahasa jawa mengungkapkan. Atau pribahasa Melayu mengungkapkan : "Mulutmu harimaumu"

Bahasa Reaktif dan Bahasa Proaktif

Steven R Covey ( 1997) mengungkapkan, bahwa bahasa reaktif berasal dari paradigma dasar deterministik dan seluruh semangatnya merupakan pergeseran tanggung jawab. Saya tidak bertanggung jawab, saya tidak dapat memilih respons saya. Bahasa orang reaktif melepaskan mereka dari tanggung jawab.

Masalah serius dari bahasa reaktif adalah bahwa bahasa merupakan pembenaran ramalan sendiri. Orang jadi lebih dikukuhkan pada paradigma bahwa mereka sudah ditakdirkan (Deterministik) , dan mereka memberi bukti yang menyokong kepercayaan itu. Mereka merasa semakin menjadi korban dan kehilangan kendali, tidak bertanggung jawab atas kehidupan dan nasib mereka. Mereka menyalahkan kekuatan luar, menyalahkan orang lain, menyalahkan guru, menyalahkan orang tua, bahkan menyalahkan lingkungan mereka sendiri. Pendek kata, mereka selalu siap menghadirkan kambing hitam.

Agar libih jelas bagaimana perbedaan bahasa orang reaktif dan bahasa orang proaktif, berikut disampaikan matrik perbedaan dari contoh kalimat yang ada ;



Bahasa yang Reaktif (R)
Bahasa Proaktif (P)


Tidak ada yang dapat saya lakukan (R)
Mari kita lihat alternative yang ada (P)

Memang sudah begitulah saya (R)
Saya dapat memilih pendekatan lain (P)

Ia membuatku begitu marah (R)
Saya mengendalikan perasaan saya (P)

Mereka Tidak akan mengizinkan itu (R)
Saya dapat memberikan argumentasi (P)

Saya terpaksa melakukan itu (R)
Saya akan memilih respons yang sesuai (P)

Saya tidak bisa(R)
Saya memilih (P)

Saya harus (R)
Saya lebih suka (P)

Seandainya saja (R)
Saya akan (P)


Aplikasi Keseharian

Secara mudah, dalam keseharian kita dapat mengamati bagaimana karakter anak atau anak didik kita melalui bahasa-bahasa, ungkapan-ungkapan yang mereka gunakan. Misalnya penggunaan kata “bisa” dan “dapat” oleh anak atau anak didik kita. Atau “ill” dan “pain” (sakit dan nyeri dalam bahasa Ingris). Jika anak atau anak didik kita tidak dapat menggunakan kata dengan tepat, maka kita perlu prihatin, karena hal itu berarti “kecerdasan Linguistik” atau Aspek Verbal IQ nya kurang berkembang.

Hal ini jangan sampai dianggap hal yang remeh, karena kecerdasan Verbal pada akhirnya juga menentukan tingkat kecerdasan secara keseluruhan. Disamping itu juga dengan kecerdasan verbal, maka hal-hal yang abstrak bias divisualisasikan, sebuah tahapan penting dalam penyelesaian soal-soal Fisika, Kimia, Matematika dan biologi. Dengan kecerdasan linguistik yang tinggi maka anak kita bias menerjemahkan hal yang abstrak menjadi gambar-gambar atau skema, symbol, matrik, yang siap diselesaikan melalui tahapn tahapan berikutnya.

Lebih jauh dari itu, penggunaan bahasa oleh anak dan anak didik kita dapat digunakan untuk menilai, mengevaluasi, dan mengoreksi berbagai perilaku anak dan anak didik kita. Berkaitan dengan hal ini, sebagai guru dan orang tua, saya sangat prihatin membaca status di facebook dari anak didik kita.

Membaca status, coment dan note anak didik kita di facebook misalnya, membuat saya harus mengurut dada. Dan saya berkesimpulan, anak-anak kurang mendapatkan pendidikan yang memadai di rumahnya, sehingga mereka menampilkan diri sebagai pribadi-pribadi “delinkers”, pribadi-pribadi yang bermasalah yang tercermin dalam penggunaan bahasanya. Bahkan sebagai bangsa kita perlu prihatin, karena Bahasa Indonesia, justru menjadi salah satu mata pelajaran yang membuat para siswa tidak lulus Ujian Nasional.

Secara International kita dapat melihat betapa kompetisi Miss Universe misalnya, jawaban spontan dengan pilihan kata yang cerdas dari kontestan menjadi penentu bagi dewan juri. Maka wajar saja ketika ada kontestan yang menyebut negaranya sebagai My City, lengsung terpental dari kontes tersebut.



VISION SEMINAR : SEMINAR UNTUK MEMBANGUN MASA DEPAN GEMILANG





Vision Seminar, seminar tentang masa depan akan
diadakan tanggal 20 Juni 2010 Di Jakarta .

Bagi Yang Ingin Merancang Masa Depan Gemilang,
SEMINAR INI SANGAT PENTING UNTUK DIIKUTI.
Daftarkan keikutsertaan anda dan teman 2 segera.

Just Contact Us or Click Online Regristration.



SEGERA GABUNG BELANJA MUDAH DIANTAR KE RUMAH BERHADIAH MEWAH PLUS MASA DEPAN CERAH. HANYA DENGAN Rp.85.000 UNTUK SEUMUR HIDUP DAN BERLAKU INTERNASIONAL

HOW TO JOIN WITH US

1. Click , Down Load and fill in Registration Online completly
2. Tranfered registration fee (Rp.100.000) to. BCA Account No. 2700202740
3. Resend to oour email your detail data, including your bank transfer information
4. ID. Card and Stater Kit will be received immediatly.

Contact Us fo further detaill information
+62087888992799

Tidak ada komentar: