MISI

***************** A MAN WHO WANT TO CREATE AN EDEN IN THE WORLD *****************

Sabtu, 28 Agustus 2010

DOA MENYAMBUT LAILATUL QODAR

Imam At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan yang lainnya telah meriwayatkan dari Ummul mu'minin Aisyah  beliau berkata : aku bertanya wahai Rasululloh jika aku telah mengetahui kapan malam lailatul qodar itu, maka apa yang aku katakan pada malam tersebut? Beliau menjawab : katakanlah

اَللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
"ya Alloh sesungguhnya engkau Maha pemaaf, engkau senang memaafkan kesalahan maka maafkanlah aku."



Dalam kehidupan penulis, istilah I’tikaf baru penulis kenal saat-saat pertama aktif di Masjid Kampus Jama”ah Shalahuddin UGM di awal tahun 80 an. Pada saat itu, beberapa temen aktifis masjid kampus mendapat kesempatan mengikuti Pengajian I’tikaf Ramadhan (PIR) yang diadakan di Masjid Abu Bakar ashshidiq Padepokan Budi Mulia Yayasan Shalahuddin Yogyakarta.

Selain melakukan I’tikaf, peserta juga melakukan kajian Islam multidimensi dari hampir semua intelektual Islam terkemuka di Yogyakarta. Pengajian I’tikaf ini dinahkodai oleh KH. Soeprapto Ibnu Juraimi (Allah Yarham, lihat video). Sedangkan untuk kajian-kajian tampil Dr. Amien Rais untuk politik Islam dan tafsir Fidzilal, Syaefullah Mahyudin MA (Allah Yarham) untuk sosiologi Islam, Dr. Syafii Ma’arif, untuk sejarah Islam, Ir. Syahirul Alim Al khafidz untuk Iptek dalam Islam, Dochak Laitif mengampu Ekonomi Islam, Kuntowidjojo (allah Yarham) mengampu Budaya Islam, Djamalluddin Ancok (Psicology), Ahmad Watik Pratiknya (Methodology), Prof. Mubyarto (Ekonomi), Gunawan Suryahadiningrat dan masih banyak lainnya, termasuk yang mampir dari luar kota seperti : Taufik Ismail, Kang Djalal (Djalaluddin Rachmat), Deliar Noer dll.

Selama tinggal di Padepokan Budi Mulia dari tahun 1985 – 1989 hampir setiap tahun menjadi mentor sekaligus panitia Pengajian I’tikaf ini, yang pesertanya tidak hanya aktivis masjid kampus di Yogya, namun juga dari kota lain sepert : Unit Kerohanian Islam UNDIP (Semarang) , Universitas Trisakti (Jakarta), Unsoed (Purwokerto), dan dalam perkembangannya peserta pengajian ini meluas hampir ke seluruh Indonesia.

Para aktivis terpilih ini datang dari berbagai penjuru kampus tanah air untuk mengisi 10 hari terakhir bulan ramadhan dengan menjalankan berbagai ibadah mahdloh sekaligus mengasah dan mengisi dirinya dengan berbagai ilmu islam multidimensi di Masjid yang terletak di Km 7,8 Jalan Kaliurang Depok, Sleman DIY ini. Direktur Pondok Pesantren Budi Mulia saat ini adalah alumni Pengajian I’tikaf Ramdhan I yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran UGM, Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti.

Sebenarnya, pengertian I’tikaf sendiri adalah diam beberapa saat di Mesjid tentu saja dengan niat khusus. Selama diam di Masjid maka kita dikatagorikan melakukan ibadah I’tikaf. Hanya saja, karena waktu I’tikaf di sepuluh hari terakhir sangat panjang, maka pemrakarsa Pengajian I’tikaf di Mesjid Padepokan Budi Mulia ini kemudian menyelenggarakan kajian kajian bagi pesertanya.

Selain KH Soeprapto Ibnu Juraimi, dwi tunggal pendekar I’tikaf di mesjid ini juga sangat berperan luar biasa. Dari menyusun design pengajian, melatih para mentor, hingga memimpin kajian-kajian Islam secara multidimensi. Dwi tunggal di maksud adalah Bang Zul (Zulkifli Halim) dan Bang Said (Said Tuhuleley) dua aktivis HMI yang tetap komit dalam pengkaderan umat.



Di sela-sela kajian khusus dan kajian Multi dimensi, peserta juga dibimbing dalam ta’aruf secara berjenjang, diskusi, membuat kompilasi dll. Tidak ketinggalan pula, untuk mengusir kantuk di siang hari karena aktivitas di mulai sejak 03.00 dini hari, peserta diperkenalkan dengan senandung-senandung yang membangkitkan.
Salah satu senandung/nyanyian yang seakan manjadi “lagu wajib” adalah senandung jihad yang terlahir dari suasana mempersiapkan perang khondak :

Berikut senandungnya :

Nahnu alladzii naa baya’uu muhammadan
‘alal jihaadi maa baqoina abadan
wal musyrikuuna qod baghau ‘alainaa
fain aroodu fitnatan abaina
Fa anzilan sakinatan ‘alaina
Watsabbitil aqdama in laqoina

Kami orang-orang yang telah berbaiat kepada Muhammad
Untuk berjihad selama kami masih hidup
Sungguh orang musyirk telah melamau batas kepada kami
Jika kami bertemu mereka, kami tolak !
Ya Allah turunkanlah ketenangan kepada kami
Dan Teguhkanlah kaki kami untuk menghadapi mereka.

We are the people who have sworn allegiance to Muhammad
For jihad as long as we're alive
Truly the Pagans have exceeded the limits to our
If we meet them, we rejected!
Yes derive the peace of God to us
And validate our feet to face them.

Senandung jihad ini yang biasanya dilagukan dengan “rengeng-rengeng” (bhs Jawa) di tangan para aktifis menjelma Mars Jihad dengan menggunakan melodi atau irama lagu “Panggilan Jihad” yang pernah popular;

Allahu akbar, allahu akbar allah allahu akbar
Nahnu alladzii naa baya’uu muhammadan
Tet te te tet
‘alal jihaadi maa baqoina abadan
Tretetet
wal musyrikuuna qod baghau ‘alainaa
fain aroodu fitnatan abaina

Allahu akbar ! allahu akbar !
Allah allahu akbar
Fa anzilan sakinatan ‘alaina
Tretetet
Watsabbitil aqdama in laqoina
Tretetete
Nahnu alladzii naa baya’uu muhammadan
‘alal jihaadi maa baqoina abadan
Nah kalau yang mars sudah muncul, mata kantuk pun jadi kembali terbelaklak, kembali mengkaji Qur’an.

Dan penulis yang sering cuap-cuap mendeklamasikan makna senandung dan Mars Jihad ini pun kembali terkulai di mighrob. Masya allah !

Semoga, siapapun yang pernah mengikuti Pengajian I’tikaf Ramadhan di Budi Mulia, nilai-nilai I’tikaf, dan Nilai-nilai Lailaitul Qodar yang kita lalui bersama benar-benar kita ejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari kita.

Dan insya Allah, kita akan memasuki 10 hari terakhir, mari kita kembali I’tikaf. Di Masjid manapun kita berada. Yang kebetulan ke Yogya, silakan mampir Ke Budi Mulia, Insya allah Prof. Ghufron welcome menyambut kita.

JIKA STAMINA ANDA MENURUN UNTUK MELAKUKAN AKTIVITAS PAMUNCAK 10 HARI TERAKHIR, TERSEDIA RCT ISI 150 KAPSUL (HALAL, AMAN DAN MANJUR). HUBUNGI KAMI DI 087888992799
PESAN BAYAR DI MUKA, TRANSFER KE : BCA No. 2700202740 a.n Darwono





Berhubung kondisi kesehatan terutama vokal, setelah maraton mengisi beberapa kegiatan bersama Jama'ah Shalahuddin UGM di Mesjid Kampus UGM Bulaksumur Yogya tidak memungkinkan untuk membaca puisi yang panjang, maka permintaan Panitia Pesantren Ramadhan di salah satu sekolah di Jakarta penulis penuhi dengan membaca 2 judul puisi pendek, Buku Harian Seorang Koruptor, dan Mandikan Aku Dengan Cahaya-Mu (lihat di arsip blog).

Sisa waktu yang ada, penulis manfaatkan untuk menyampaikan beberapa catatan kecil tentang Al Quran dan Penyair. Terutama ayat-ayat ayat dalam surat Asyu"ara. Berikut adalah catatan kecil tersebut.

Penamaan Surat Al Quran dengan satu profesi tertentu pasti memiliki makna.Salah satu profesi yang mendapatkan tempat tersendiri di dalam al Quran adalah Penyair. Para Penyair mendapat tempat di dalam al Quran dengan nama surat Asy Syu'ara , yang maknanya para penyair.

Rangkaian ayat yang menjelaskan Para Penyair itu, terentang mulai ayat 221 surat ke 26, yang artinya sebagai berikut :
221. Maukah Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun ?
222. Mereka (syetan) turun kepada setiap pendusta yang banyak dosa.
223. mereka menyampaikan hasil pendenganran mereka, sedangkan kebanyakan
merekaorang-orang pendusta.
224. Dan penyair-penyair itu diikuti oleh-orang-orang yang sesat.
225. Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah.
226. Dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya ?
227. Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapat kemenangan setelah terzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir), Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.

Abdullah bin Rawahah, salah seorang Sahabat rasul yang piawai bersyair, terpukul dengan rangkaian awal-awal ayat di atas. Namun dengan adanya ayat ke 227 yang mengkhususkan Penyair Beriman dan beramal sholeh, dia pun merasa tenang.

Begitu hebatkah pengaruh penyair dengan syair-syairnya ? apa jenis kesesatan yang dapat diberikan oleh Penyair sesat ?

Tidak dipungkiri lagi, syair, puisi, pantun, lirik dan sejenisnya memiliki pengruh yang sangat luar biasa. Rangkaian kata-katanya, dapat membuat orang bergairah untuk jihad, bersemangat untuk mencintai, meluluhkan hati dan mengalirkan air mata. Begit banyak pengaruk syair bagi jiwa dan perilaku manusia, maka wajar saja jika puisi-puisi itu, syairt-syair itu ditulis dengan kontent yang menyesatkan, akan dapat menyesatkan para pembaca nya.

Beberapa contoh konten puisi berdasarkan jenis kesesatannya penulis beri contoh sebagai beriukut :

1. Sesat Aqidah
Aqidah Islam mengajarkan Tauhid, Allahlah yang Maha Esa, Allahlah yang mengatur segalanya. Coba Renungkan sebuah syair lagu dandut berikut :
"Amor, dewa amor,
Namamu abadi dalam dunia cinta
Karena engkaulah dewanya asmara
Amor, dewa Amor....
Dewa Amor bersenjatakan panah
Dibidikan pada hati remaja
Barang siapa terkena panahnya
Berarti dia sedang jatuh cinta
Dewa Amor, dewa Asmara
Dia bertahta di singgasana cinta
Amor, dewa amor

(Amor, Rhoma Irama).

Bandingkan dengan nafas syair tentang cinta berikut :

" Tuhan kirimkanlah daku
Kekasih yang baik hati
yang menyayangiku
apa adanya... "


(Munajat Cinta)

2. Sesat Muamalah dan Birul Walidain
Coba simak syair lagu jablay berikut :
Pulang Tamasya ke binaria
Tahu-tahu berbadan dua
Meski tanpa restu orang tua, sayang
Aku rela abang bawa pulang......
lalai lalai lalai panggil aku si Jablay




Yang terasa benar adanya pergaulan sex bebeas yang berakhibat pada berani meninggalkan orang tua hanya untuk mengikuti kepuasan birahinya.

Sebagai bandingan, kita simak syair berikut :

" Maafkan aku kasih
bukan aku tak sudi
menerima cintamu
sepenuh hati..

Agar engkau bahagia
rela ku melepasmu
turutilah kedua orang tuamu...
"

(Tak Berdaya)

Jenis-jenis kesesatan ini juga terdapat pada "Teman Tapi Mesra". Sesat muamalah, juga terasa pada syair lagu yang sangat ngetop : Angin Malam :

"diiringi gemuruh angin
Meniup daun-daun
Alam yang jadi saksi
Kau serahkan, jiwa raga....
"

Tentu saja, masih banyak jenis-jenis kesesatan yang bisa dikupas, yang sering termasuk kesesatan gaya hidup :

"Aku rela, walau hidup susah, aku rela walau menderita, asal kau setia, asal kau setia.. " (Gubuk Derita). Termasuk jenis kesesatan ini adalah lirik-lirik yang mengkampanyekan kawin/cinta campuran (Isabela), Kawin lari, kampanye sex bebas yang terselubung cinta (Perkawinan Dini) dll.

Ayat 224 hingga 226 jelas menggambarkan ciri-ciri penyair yang diikuti oleh orang-orang yang sesat. Ayat itu juga menggambarkan bagaimana orang-orang sesat cenderung mengikuti penyair dengan ciri-ciri tersebut.

Disisi lain, pada ayat 227, merupakan ciri khusus Penyair yang ytidak menyesatkan pengikutnya, tetapi justru berperan sebagai "contro penyair', penyair yang melawan karya-karya penyair sesat.

Rangkaian-rangkaian ayat di atas mengajarkan kepada kita, satu profesi (dlam ayat ini adalah penyair) bisa punya peran Taqwa, juga bisa punya peran Fujur. Bisa sebagai alat sebagai Da'wah ila sabilillah, bisa sebagai alat menjerumuskan ke Sabilittaghut, tergantung di tangan siapa dia berada. Demikian juga dengan profesi lain.

Oleh karena dalam kehidupan nyata kita menghadapi berbagai bidang kehidupan, maka juru-jura dakwah juga harus dipersiapkan dari berbagai bidang kehidupan. Kita dapat membaca sirah Rasulullah, bahwa para sahabat rasulullah berasal dari berbagai latar belakang profesi dan keahlian seperti : Abdurrahman Bin Auf yang berlatar belakang Bisnis, Salman Al farisi yang Teknokrat, Abdullah bin Rawahah yang Penyair, Ali Karamallahu Wajhah yang Intektual dll.

Kesadaran-kesadaran dakwah memerlukan pendekatan multidimensi yang sangat kurang inilah sebagai salah satu penyebab kurang efektifnya da'wah kita.Bahkan kecenderungan Dakwah untuk menciptakan "satu wajah" Islam yang terasa kurang bersahabat bukan memberikan kontribusi bagi terwujudnya islam sebagai rahmatallil alamin tetapi malah sebaliknya, menampilkan Islam yang menakutkan. Islam ditutupi oleh Kaum Muslimin, Kemuliaan Islam ditutupi oleh kepecundangan kaum muslimin menjadi realitas.

Berkenaan dengan hal itu, tidak ada kata lain kecuali, kita mau menyerukan keindahan, kemuliaan, kerahmatan Al Islam melalui karya-karya kita sendiri tergantung profesi dan keahlian kita masing-masing. I'maluu 'alaa makaanatikum, innii aamil, beramalah di posisi-posis anda, karena sesungguhnya Aku (allah SWT) juga bekerja.

Ditengah kampanye syair-syair, lirik-lirik lagu yang mengoyak-ngoyak keimanan, tauhid, ikhsan dan akhlakul karimah, maka penyair, penulis lirik, dan seniman-seniman mu'min dituntut tanggung jawabnya untuk tampil dengan karya-karya yang dapat membimbing umat ke jalan taqwa, menuju fisabilillah. Karena sesungguhnya, proses kreatif maupun realitas kekaryaan seniman muslim tentu bukan hanya untuk seni itu sendiri, tetapi lebih jauh dari itu, semuanya harus dalam frame beribadah kepada Allah SWT.

Karena pada hakekatnya siapapun kita pada akhirnya seperti apa yang digambarkan oleh Chairil Anwar dalam sebuah sajaknya :

"Tuhanku,
Aku hilang bentuk,
Remuk !

Tuhanku,
Di pintu-Mu aku mengetuk
Aku tak bisa berpaling
"

Kesadaran sangkan parananing dumadi, kemana kita akan kembali akan memperkokoh kredo kesenimanan kita untuk tidak terjebak sekedar Art is Art !.

Semoga !

Tidak ada komentar: