MISI

***************** A MAN WHO WANT TO CREATE AN EDEN IN THE WORLD *****************

Kamis, 26 Agustus 2010

QURAN AND MOSLEM'S SOCCIAL RESPONSIBELITY



Berhubung kondisi kesehatan terutama vokal, setelah maraton mengisi beberapa kegiatan bersama Jama'ah Shalahuddin UGM di Mesjid Kampus UGM Bulaksumur Yogya tidak memungkinkan untuk membaca puisi yang panjang, maka permintaan Panitia Pesantren Ramadhan di salah satu sekolah di Jakarta penulis penuhi dengan membaca 2 judul puisi pendek, Buku Harian Seorang Koruptor, dan Mandikan Aku Dengan Cahaya-Mu (lihat di arsip blog).

Sisa waktu yang ada, penulis manfaatkan untuk menyampaikan beberapa catatan kecil tentang Al Quran dan Penyair. Terutama ayat-ayat ayat dalam surat Asyu"ara. Berikut adalah catatan kecil tersebut.

Penamaan Surat Al Quran dengan satu profesi tertentu pasti memiliki makna.Salah satu profesi yang mendapatkan tempat tersendiri di dalam al Quran adalah Penyair. Para Penyair mendapat tempat di dalam al Quran dengan nama surat Asy Syu'ara , yang maknanya para penyair.

Rangkaian ayat yang menjelaskan Para Penyair itu, terentang mulai ayat 221 surat ke 26, yang artinya sebagai berikut :
221. Maukah Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun ?
222. Mereka (syetan) turun kepada setiap pendusta yang banyak dosa.
223. mereka menyampaikan hasil pendenganran mereka, sedangkan kebanyakan
merekaorang-orang pendusta.
224. Dan penyair-penyair itu diikuti oleh-orang-orang yang sesat.
225. Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah.
226. Dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya ?
227. Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapat kemenangan setelah terzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang kafir), Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.

Abdullah bin Rawahah, salah seorang Sahabat rasul yang piawai bersyair, terpukul dengan rangkaian awal-awal ayat di atas. Namun dengan adanya ayat ke 227 yang mengkhususkan Penyair Beriman dan beramal sholeh, dia pun merasa tenang.

Begitu hebatkah pengaruh penyair dengan syair-syairnya ? apa jenis kesesatan yang dapat diberikan oleh Penyair sesat ?

Tidak dipungkiri lagi, syair, puisi, pantun, lirik dan sejenisnya memiliki pengruh yang sangat luar biasa. Rangkaian kata-katanya, dapat membuat orang bergairah untuk jihad, bersemangat untuk mencintai, meluluhkan hati dan mengalirkan air mata. Begit banyak pengaruk syair bagi jiwa dan perilaku manusia, maka wajar saja jika puisi-puisi itu, syairt-syair itu ditulis dengan kontent yang menyesatkan, akan dapat menyesatkan para pembaca nya.

Beberapa contoh konten puisi berdasarkan jenis kesesatannya penulis beri contoh sebagai beriukut :

1. Sesat Aqidah
Aqidah Islam mengajarkan Tauhid, Allahlah yang Maha Esa, Allahlah yang mengatur segalanya. Coba Renungkan sebuah syair lagu dandut berikut :
"Amor, dewa amor,
Namamu abadi dalam dunia cinta
Karena engkaulah dewanya asmara
Amor, dewa Amor....
Dewa Amor bersenjatakan panah
Dibidikan pada hati remaja
Barang siapa terkena panahnya
Berarti dia sedang jatuh cinta
Dewa Amor, dewa Asmara
Dia bertahta di singgasana cinta
Amor, dewa amor

(Amor, Rhoma Irama).

Bandingkan dengan nafas syair tentang cinta berikut :

" Tuhan kirimkanlah daku
Kekasih yang baik hati
yang menyayangiku
apa adanya... "


(Munajat Cinta)

2. Sesat Muamalah dan Birul Walidain
Coba simak syair lagu jablay berikut :
Pulang Tamasya ke binaria
Tahu-tahu berbadan dua
Meski tanpa restu orang tua, sayang
Aku rela abang bawa pulang......
lalai lalai lalai panggil aku si Jablay




Yang terasa benar adanya pergaulan sex bebeas yang berakhibat pada berani meninggalkan orang tua hanya untuk mengikuti kepuasan birahinya.

Sebagai bandingan, kita simak syair berikut :

" Maafkan aku kasih
bukan aku tak sudi
menerima cintamu
sepenuh hati..

Agar engkau bahagia
rela ku melepasmu
turutilah kedua orang tuamu...
"

(Tak Berdaya)

Jenis-jenis kesesatan ini juga terdapat pada "Teman Tapi Mesra". Sesat muamalah, juga terasa pada syair lagu yang sangat ngetop : Angin Malam :

"diiringi gemuruh angin
Meniup daun-daun
Alam yang jadi saksi
Kau serahkan, jiwa raga....
"

Tentu saja, masih banyak jenis-jenis kesesatan yang bisa dikupas, yang sering termasuk kesesatan gaya hidup :

"Aku rela, walau hidup susah, aku rela walau menderita, asal kau setia, asal kau setia.. " (Gubuk Derita). Termasuk jenis kesesatan ini adalah lirik-lirik yang mengkampanyekan kawin/cinta campuran (Isabela), Kawin lari, kampanye sex bebas yang terselubung cinta (Perkawinan Dini) dll.

Ayat 224 hingga 226 jelas menggambarkan ciri-ciri penyair yang diikuti oleh orang-orang yang sesat. Ayat itu juga menggambarkan bagaimana orang-orang sesat cenderung mengikuti penyair dengan ciri-ciri tersebut.

Disisi lain, pada ayat 227, merupakan ciri khusus Penyair yang ytidak menyesatkan pengikutnya, tetapi justru berperan sebagai "contro penyair', penyair yang melawan karya-karya penyair sesat.

Rangkaian-rangkaian ayat di atas mengajarkan kepada kita, satu profesi (dlam ayat ini adalah penyair) bisa punya peran Taqwa, juga bisa punya peran Fujur. Bisa sebagai alat sebagai Da'wah ila sabilillah, bisa sebagai alat menjerumuskan ke Sabilittaghut, tergantung di tangan siapa dia berada. Demikian juga dengan profesi lain.

Oleh karena dalam kehidupan nyata kita menghadapi berbagai bidang kehidupan, maka juru-jura dakwah juga harus dipersiapkan dari berbagai bidang kehidupan. Kita dapat membaca sirah Rasulullah, bahwa para sahabat rasulullah berasal dari berbagai latar belakang profesi dan keahlian seperti : Abdurrahman Bin Auf yang berlatar belakang Bisnis, Salman Al farisi yang Teknokrat, Abdullah bin Rawahah yang Penyair, Ali Karamallahu Wajhah yang Intektual dll.

Kesadaran-kesadaran dakwah memerlukan pendekatan multidimensi yang sangat kurang inilah sebagai salah satu penyebab kurang efektifnya da'wah kita.Bahkan kecenderungan Dakwah untuk menciptakan "satu wajah" Islam yang terasa kurang bersahabat bukan memberikan kontribusi bagi terwujudnya islam sebagai rahmatallil alamin tetapi malah sebaliknya, menampilkan Islam yang menakutkan. Islam ditutupi oleh Kaum Muslimin, Kemuliaan Islam ditutupi oleh kepecundangan kaum muslimin menjadi realitas.

Berkenaan dengan hal itu, tidak ada kata lain kecuali, kita mau menyerukan keindahan, kemuliaan, kerahmatan Al Islam melalui karya-karya kita sendiri tergantung profesi dan keahlian kita masing-masing. I'maluu 'alaa makaanatikum, innii aamil, beramalah di posisi-posis anda, karena sesungguhnya Aku (allah SWT) juga bekerja.

Ditengah kampanye syair-syair, lirik-lirik lagu yang mengoyak-ngoyak keimanan, tauhid, ikhsan dan akhlakul karimah, maka penyair, penulis lirik, dan seniman-seniman mu'min dituntut tanggung jawabnya untuk tampil dengan karya-karya yang dapat membimbing umat ke jalan taqwa, menuju fisabilillah. Karena sesungguhnya, proses kreatif maupun realitas kekaryaan seniman muslim tentu bukan hanya untuk seni itu sendiri, tetapi lebih jauh dari itu, semuanya harus dalam frame beribadah kepada Allah SWT.

Karena pada hakekatnya siapapun kita pada akhirnya seperti apa yang digambarkan oleh Chairil Anwar dalam sebuah sajaknya :

"Tuhanku,
Aku hilang bentuk,
Remuk !

Tuhanku,
Di pintu-Mu aku mengetuk
Aku tak bisa berpaling
"

Kesadaran sangkan parananing dumadi, kemana kita akan kembali akan memperkokoh kredo kesenimanan kita untuk tidak terjebak sekedar Art is Art !.

Semoga !


KEPEMIMPINAN YANG DIBERKAHI



Siapapun, yang pernah mengikuti training kepemimpinan (Leadership Training) dari mulai tingkat basik hingga advance, senantiasa disuguhi sebuah pengertian kepemimpinan yang hampir seragam. Yakni Kemampuan mengerahkan segenap potensi untuk mencapai tujuan. Dan tujuan yang dimaksud adalah sama pula yakni menjadi "penguasa" pada level-level tertentu dalam sebuah organisasi, lembaga atau instansi.

Obsesi untuk menjadi "penguasa" yang terus tertanam ini, menampilkan profil kepemimpinan yang berparadigma "penguasa". Tidak heran, obsesi ini juga melahirkan praktek-pratek pencapai tujuan yang menghalalkan segala cara. Tidak ketinggalan juga, cara untuk meraih "kekuasaan" pun tidak kalah naifnya. Untuk menjadi "penguasa" di level tertentu, seseorang sering mempertaruhkan harga dirinya sebagai mahluk yang berderajat tinggi. Nilai-nilai kemanusiaan, kasih sejati, dan jati diri sebagai makhluk yang beradap sering dikorbankan untuk meraih tujuan sebagai penguasa.

Praktek-praktek kotor ini, tentu berpangkal dari kondisi diri yang lupa akan mati. Keberanian mempertaruhkan segalanya hanya untuk menjadi "penguasa" , meski hanya pada level terrendah, tentu dilandasi oleh paradigma yanmg keliru, dimana, seolah-olah dia akan menjadi penguasa selamanya. Ini tentu saja sangat berbeda jika dia ingat bahwa dia akan mati tanpa diketahui kapan dan dimananya.


"Ketika saya melihat makam orang-orang besar, semua emosi rasa iri pudar dalam diri saya; ketika saya membaca tulisan-tulisan di atas batu nisan orang-orang cantik, semua keinginan yang tak terkendali menjadi sirna; ketika saya melihat kesedihan para orang tua di atas batu nisan, hati saya luluh dengan rasa iba; ketika saya melihat kuburan para orang tua itu sendiri, saya memikirkan sia-sianya kedukaan mereka ....... (Joseph Addison).

Kematian pasti akan dialami oleh siapapun, masalahnya, sudahkah kita mempersiapkannya ? sudahkah kematian manjadi titik tolak kita untuk hidup ? apakah kita sudah hidup dengan cerdas, yakni hidup untuk mempersiapkan kematian yang indah ?

Rosul bersabda, Alkayisu, mandaana nafsahu wa'amila lima ba'da mautih, orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk sesudah matinya. Mati, titik akhir kehidupan di dunia bias menjadi titik focus tujuan setiap amaliah kita.

Berkaitan dengan kematian ini, Steven R Covey mengungkapkan : " Dengan mengusahakan titik akhir tersebut (kematian) tetap jelas dalam pikiran, anda dapat memastikan bahwa apapun yang anda kerjakan pada hari tertentu, tidak melanggar criteria yang sudah anda definisikan sebagai yang paling penting, dan bahwa tipa hari dari kehidupan andamenunjang visi yang anda miliki tentang seluruh hidup anda dengan cara yang berarti.

Paradigma Kematian, yang mendasari seluruh aktivitas hidup kita, akan melahirkan kebahagiaan hidup sejati. Yakni hidup yang diliputi oleh nilai-nilai kasih yang universal, dibimbing oleh nilai-nilai yang menuju terwujudnya kehidupan yang penuh rahmat, yang penuh berkah. Inilah kepemimpinan yang diberkahi.

Jadi Kepemimpinan yang diberkahi, adalah kepemimpinan yang dilandasi oleh Paradigma Kematian, paradigma yang meyakini bahwa kita semua akan meninggal, dan yakin adanya kehidupan sesudah mati.

Konsep Kepemimpinan Yang Diberkahi ini merupakan konsep kepimimpinan hasil perenungan perjalanan hidup yang panjang, perjalanan hidup beserta pengalaman pengalaman religius yang panjang, melalui pendakian emosi, melalui pergulatan intelektual, dan melalui taruhan-taruhan kehidupan.

Sejak mulai aktif di Karang Taruna, Aktivis kampus intra dan extra,pesantren mahasiswa, pekerja sosial, praktisi pendidikan, aktivis partai politik, aktivis dakwah,aktivis Koperasi, trainer nasional,pekerja seni, edukator dan juga dunia entertainment (sinetron dan iklan) serta blogger yang telah penulis jalani,memberikan tarbiyah dan hikmah yang luar biasa.

Konsep ini murni berkaitan dengan missi dan vissi penulis, tentunya dengan berbagai rujukan dari agama, tasauf, pengembangan sumber daya, community development dll. Anda ingin mengetahui konsep ini ? Ikuti Pengenalan Konsep Kepemimpinan Yang Diberkahi melalui workshop :God's Blessing Leadership Training.

Dengan orientasi meningkatkan kecerdasan jamak, Mulitiple Intelligent Empowering Training. workshop ini diawali dengan prosesi kematian, perenanungan kematian sebagai proses penyadaran, bahwa siapapun kita pada akhirnya akan menghadapi kematian, sehingga semua aktivitas diri selalu dalam kriteria hal-hal yang penting dan benar, termasuk fikiran, perasaan, ide, kebijakan, keinginan maupun cara-cara meraih keinginan harus dilandasi dengan nilai kebaikan universal.

Rumusan citra diri pada ujung kehidupan kemudian dirujukan dengan berbagai kondisi saat ini, baik kekurangan, kelemahan, ide, cita-cita dan harapan terdalam dari diri kita. Proses ini berujuan untuk melakukan Analisa Kekuatan Diri (semacam SWOT), yang dilanjutkan perumusan-perumusan tujuan. Rumusan tujuan hidup difragmentasi menjadi hal-hal yang riil untuk dilakukan dalam aktivitas seharian.

Methode workshop Kepemimpinan Yang Diberkahi ini didominasi dengan game, role play dan kerja (learning by doing), diskusi dan tanya jawab terutama diorientasikan untuk melakukan afirmasi, dengan brain storming. Dengan methoda ini maka diharapkan semua aspek kecerdasan jamak akan mengalami penguatan secara imtegral karena diasah berulang.

Di tengah kondisi dunia yang kian mencekam, krisis berkepanjangan, dehumanisasi yang kontinyu dan sitemik, pergeseran nilai dan gaya hidup yang kian mengamputasi nilai-nilai kasih, kekuatan kepemimpinan sering diasumsikan sebagai kemampuan untu keluar dari permasalahan itu meski justru melahirkan permasalahan yang jauh lebih khronis. Suasana ini menuntut pemimpin-pemimpin yang menjalankan kepemimpinannya dengan orientasi memimbing (to lead) manusia kepada nilai-nilai kemanusian yang hakiki, nilai-nilai yang akan menaburkan keselamatan dan kesejahteraan bagi alam raya, nilai-nilai yang rahmatallil alamin, sehingga kehidupan menjadi kian berkah.

Bagi Ta'mir masjid atau organisasi, atau instansi, dunia kampus, organisasi kemahasiswaan, Masjid Kampus atau sekolah yang berminat menyelenggarakan workshop Kepemimpinan Yang Diberkahi ini kami siap bekerja sama secara tulus.

Kami juga membuka pintu bagi siapa saja yang memiliki komitmen yang sama, untuk menjadi mitra (sponsor) dalam sosialisasi konsep ini, demi lahirnya pemimpin-pemimpin yang ingat kampung akhirat, sehingga akan mereduksi niat-niat, praktek-praktek dan intrik-intrik jahat yang dilahirkan oleh konsep kepemimpinan berparadigma kekuasaan.

Partisipasi anda dalam sosialisasi dan pematangan konsep ini dapat berupa apa saja, termasuk yang berupa dana. Jika anda percaya kepada kami, silakan Hubungi kami di 0878 88 99 27 99.




Jazaakumullahu khoiron katsiron .

INILAH KREDO HIDUPKU



Tidak ada komentar: