MISI

***************** A MAN WHO WANT TO CREATE AN EDEN IN THE WORLD *****************

Selasa, 12 Oktober 2010

Methylparaben, Methyl p-hydroxybenzoat


Ditariknya produk satu merk mie instan asal Indonesia dari pasaran Taiwan memunculkan heboh jenis senyawa yang ada di dalamnya. Kontroversi tentang senyawa ini pun muncul dimana-mana. Hampir semua stasiun TV di Indonesia dan mass media juga tidak ketinggalan memperdebatkannya. Tulisan ini tidak bermaksud menmbah panjang perdebatan, namaun sekedar memberikan informasi dari beberapa sumber tentang senyawa ini.

Wikipedia, menguraikan Methyl-p-hidroxybenzoat sebagai berikut :

Methylparaben, also methyl paraben, one of the parabens, is a preservative with the chemical formula CH3(C6H4(OH)COO). It is the methyl ester of p-hydroxybenzoic acid.

Uses

Methylparaben is an anti-fungal agent often used in a variety of cosmetics and personal care products. It is also used as a food preservative and has the E number E218.
Methylparaben is commonly used as a fungicide in Drosophila food media. Usage of methylparaben is known to slow Drosophila growth rate in the larval and pupal stages.
Safety
Methylparaben is produced naturally and found in several fruits, primarily blueberries, along with other parabens. There is no evidence that methylparaben or propylparabens are harmful at concentrations typically used in body care or cosmetics.[1] Methyl and propylparabens are considered GRAS (generally regarded as safe) for food and cosmetic antibacterial preservation.[2] Methylparaben is readily metabolized by common soil bacteria, making it completely biodegradable.

Methylparaben is readily absorbed from the gastrointestinal tract or through the skin.[3] It is hydrolyzed to p-hydroxybenzoic acid and rapidly excreted without accumulation in the body.[3] Acute toxicity studies have shown that methylparaben is practically non-toxic by both oral and parenteral administration.[3] In a population with normal skin, methylparaben is practically non-irritating and non-sensitizing; however, allergic reactions to ingested parabens have been reported.[3]

Studies indicate that methylparaben applied on the skin may react with UVB leading to increased skin aging and DNA damage

Sumber lain menulis :

Hazards Identification

Emergency Overview , As part of good industrial and personal hygiene and safety procedure, avoid all unnecessary exposure to the chemical substance and ensure prompt removal from skin, eyes and clothing.

Potential Health Effects

Inhalation: High concentrations of dust may cause sore throat, coughing and difficult breathing.
Ingestion: Large doses may produce gastric upset.
Skin Contact: May cause irritation. Paraben sensitization may occur especially when substance is applied to broken or damaged skin.
Eye Contact: May cause irritation, redness and pain.
Chronic Exposure: No information found.
Aggravation of Pre-existing Conditions: No information found.

Toxicological Information

Oral rat LD50: 2100 mg/kg; investigated as a mutagen

Disposal Considerations

Whatever cannot be saved for recovery or recycling should be managed in an appropriate and approved waste disposal facility. Processing, use or contamination of this product may change the waste management options. State and local disposal regulations may differ from federal disposal regulations. Dispose of container and unused contents in accordance with federal, state and local requirements

Beberapa catatan



Meskipun penulis belum menemukan literatur tentang penguraian senyawa ini, namun dari nama esternya, methyl-para hydroksibenzoat berarti ester yang terbentuh dari Methyl-alkohol (methanol) dan Asam Para hydroksi Benzoat. Jadi hidrolisis utama senyawa ini adalah menjadi senyawa alkohol methanol dan senyawa karboksilat aromatik para-hydroksibenzoat. Penguraian lebih jauh kemungkinan bisa menjadi asam formiat (asam semut) dari gugus karboksilatnya, dan gugus Phenol.

Methanol


Metanol, juga dikenal sebagai metil alkohol, wood alcohol atau spiritus, adalah senyawa kimia dengan rumus kimia CH3OH. Ia merupakan bentuk alkohol paling sederhana. Pada "keadaan atmosfer" ia berbentuk cairan yang ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun dengan bau yang khas (berbau lebih ringan daripada etanol). Ia digunakan sebagai bahan pendingin anti beku, pelarut, bahan bakar dan sebagai bahan additif bagi etanol industri.

Metanol diproduksi secara alami oleh metabolisme anaerobik oleh bakteri. Hasil proses tersebut adalah uap metanol (dalam jumlah kecil) di udara. Setelah beberapa hari, uap metanol tersebut akan teroksidasi oleh oksigen dengan bantuan sinar matahari menjadi karbon dioksida dan air.

Reaksi kimia metanol yang terbakar di udara dan membentuk karbon dioksida dan air adalah sebagai berikut:

2 CH3OH + 3 O2 → 2 CO2 + 4 H2O
Api dari metanol biasanya tidak berwarna. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati bila berada dekat metanol yang terbakar untuk mencegah cedera akibat api yang tak terlihat.

Karena sifatnya yang beracun, metanol sering digunakan sebagai bahan additif bagi pembuatan alkohol untuk penggunaan industri; Penambahan "racun" ini akan menghindarkan industri dari pajak yang dapat dikenakan karena etanol merupakan bahan utama untuk minuman keras (minuman beralkohol). Metanol kadang juga disebut sebagai wood alcohol karena ia dahulu merupakan produk samping dari distilasi kayu. Saat ini metanol dihasilkan melului proses multi tahap. Secara singkat, gas alam dan uap air dibakar dalam tungku untuk membentuk gas hidrogen dan karbon monoksida; kemudian, gas hidrogen dan karbon monoksida ini bereaksi dalam tekanan tinggi dengan bantuan katalis untuk menghasilkan metanol. Tahap pembentukannya adalah endotermik dan tahap sintesisnya adalah eksotermik

Toxicological Information

Methyl Alcohol (Methanol) Oral rat LD50: 5628 mg/kg; inhalation rat LC50: 64000 ppm/4H; skin rabbit LD50: 15800 mg/kg; Irritation data-standard Draize test: skin, rabbit: 20mg/24 hr. Moderate; eye, rabbit: 100 mg/24 hr. Moderate. Investigated as a mutagen, reproductive effector

Keracunan Metanol Sulit Diobati. Menurut dosen farmakolo-gi dan toksikologi di Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, Joseph Sigit, keracunan metanol tak bisa ditangkal atau diobati dengan mudah. Kasus kematian tiga teknisi pesawat Sukhoi asal Rusia di Makassar beberapa hari lalu, kata Sigit, ada kemungkinan karena mereka meminum metanol yang dicampur dengan alkohol. Sebelumnya diberitakan, kepolisian menduga kematian tiga teknisi pesawat Sukhoi asal Rusia, yaitu Aleksander Poltorak, Serega Vo-ronin, dan Victor Safonov, akibat keracunan metanol atau spiritus.

Kompas.com 15 September 2010 menulis ,"Hasil penelitian Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri terhadap organ tubuh tiga teknisi asal Rusia yang bertugas merakit tiga pesawat Sukhoi di Makasar, Sulawesi Selatan, menyimpulkan bahwa ketiganya tewas akibat keracunan methanol. Kesimpulan itu didapat setelah pihak Labfor Polri meneliti organ otak, hati, paru kiri dan kanan, serta cairan lambung tiga teknisi."

"Dari hasil pemeriksaan texiologi ditemukan methanol di seluruh organ tubuh ketiga jenazah. Kami dapat menyimpulkan bahwa penyebab kematian karena keracunan methanol, " kata Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Mabes Polri Brigjen (Pol) Musadek di Mabes Polri, Rabu

Methanol sering dikatagorikan :POISON! DANGER! VAPOR HARMFUL. MAY BE FATAL OR CAUSE BLINDNESS IF SWALLOWED. HARMFUL IF INHALED OR ABSORBED THROUGH SKIN. CANNOT BE MADE NONPOISONOUS. FLAMMABLE LIQUID AND VAPOR. CAUSES IRRITATION TO SKIN, EYES AND RESPIRATORY TRACT. AFFECTS CENTRAL NERVOUS SYSTEM AND LIVER.

Asam Formiat (Asam Semut)


Asam format (nama sistematis: asam metanoat) adalah asam karboksilat yang paling sederhana. Asam format secara alami terdapat pada antara lain sengat lebah dan semut. Asam format juga merupakan senyawa intermediat (senyawa antara) yang penting dalam banyak sintesis kimia. Rumus kimia asam format dapat dituliskan sebagai HCOOH atau CH2O2.

Di alam, asam format ditemukan pada sengatan dan gigitan banyak serangga dari ordo Hymenoptera, misalnya lebah dan semut. Asam format juga merupakan hasil pembakaran yang signifikan dari bahan bakar alternatif, yaitu pembakaran metanol (dan etanol yang tercampur air), jika dicampurkan dengan bensin. Nama asam format berasal dari kata Latin formica yang berarti semut. Pada awalnya, senyawa ini diisolasi melalui distilasi semut. Senyawa kimia turunan asam format, misalnya kelompok garam dan ester, dinamakan format atau metanoat. Ion format memiliki rumus kimia HCOO−.

Uses

The principal use of formic acid is as a preservative and antibacterial agent in livestock feed. When sprayed on fresh hay or other silage, it arrests certain decay processes and causes the feed to retain its nutritive value longer, and so it is widely used to preserve winter feed for cattle. In the poultry industry, it is sometimes added to feed to kill salmonella bacteria

Safety
Formic acid in 85% concentration is not flammable, and diluted formic acid is on the US Food and Drug Administration list of food additives.[14] The principal danger from formic acid is from skin or eye contact with the concentrated liquid or vapors. The US OSHA Permissible Exposure Level (PEL) of formic acid vapor in the work environment is 5 parts per million parts of air (ppm).

Formic acid is readily metabolized and eliminated by the body. Nonetheless, it has specific toxic effects; the formic acid and formaldehyde produced as metabolites of methanol are responsible for the optic nerve damage, causing blindness seen in methanol poisoning.[15] Some chronic effects of formic acid exposure have been documented. Some animal experiments have demonstrated it to be a mutagen[citation needed], and chronic exposure may cause liver or kidney damage. Another affect of chronic exposure is development of a skin allergy that manifests upon re-exposure to the chemical.

Concentrated formic acid slowly decomposes to carbon monoxide and water, leading to pressure buildup in the container it is kept in. For this reason, 98% formic acid is shipped in plastic bottles with self-venting caps.

The hazards of solutions of formic acid depend on the concentration. The following table lists the EU classification of formic acid solutions

Efek pada Manusia: Asam format berbahaya mengiritasi kulit, mata, dan selaput lendir dan juga mungkin beracun ke ginjal.Pekerja yang terpapar asam format di sebuah pabrik tekstil mengeluh mual pada konsentrasi asam formiat rata-rata 15 ppm [NLM 1992].

Konsentrasi serendah 32 mg / l mungkin korosif, namun, larutan encer asam format 10 persen ternyata tidak korosif [Clayton dan Clayton 1982]. keracunan Akut, asam formiat menyebabkan korosi pada kulit, mata, dan selaput lendir pada tenggorokan, mulut, dan kerongkongan dan mungkin terkait dengan komplikasi seperti kolaps kardiovaskular dan kerusakan iskemik pada hati, jantung dan ginjal, pembengkakan saluran udara , dan gangguan pernapasan. menelan menyebabkan ulserasi pada saluran pencernaan, yang menghasilkan perforasi dan peritonitis dan akhir parut pada struktur dari saluran pencernaan yang, pada gilirannya, menghasilkan hambatan yang memerlukan perbaikan bedah [Gosselin 1984].

Seorang pekerja memercik di wajah dengan asam format yang dikembangkan gangguan pernapasan dan kesulitan dalam menelan, dan meninggal dalam waktu 6 jam [Hathaway et al. 1991]. 1991]. Other reports indicate that splashes of formic acid in the eye have caused permanent clouding of the cornea, with loss of visual acuity. Laporan lain menunjukkan bahwa cipratan asam format dalam mata telah menyebabkan kekeruhan kornea permanen, dengan hilangnya ketajaman visual. In one case, the injury required removal of the affected eye [Grant 1986].

Dalam satu kasus, yang diperlukan penghapusan cedera mata terkena [Grant 1986]. kronis penyerapan asam format dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal, yang ditandai dengan albuminuria dan hematuria [NLM 1992]. kontak kulit kronis dapat menyebabkan dermatitis sensitisasi, terutama pekerja sebelumnya peka terhadap formaldehid [NLM 1992].

Phenol/Karbol

Phenol merupakan derivat benzene dengan substitusi satu gugus H dengan gugus hidroksil (-OH), senyawa phenol dalam kehidupan sehario-hari dikenal dengan nama karbol, yang larutannya digunakan sebagai antiseptik WC/toilet. Tentu akan sangat membantu jika ada pembaca yang mempunyai referensi penguraian Paraben ini.



Toksisitas Phenol

Phenol and its vapors are corrosive to the eyes, the skin, and the respiratory tract.[14] Repeated or prolonged skin contact with phenol may cause dermatitis, or even second and third-degree burns due to phenol's caustic and defatting properties.[15] Inhalation of phenol vapor may cause lung edema.[14] The substance may cause harmful effects on the central nervous system and heart, resulting in dysrhythmia, seizures, and coma.[16] The kidneys may be affected as well. Exposure may result in death and the effects may be delayed. Long-term or repeated exposure of the substance may have harmful effects on the liver and kidneys."[17] There is no evidence to believe that phenol causes cancer in humans.[18] Besides its hydrophobic effects, another mechanism for the toxicity of phenol may be the formation of phenoxyl radicals.[19]

Chemical burns from skin exposures can be decontaminated by washing with polyethylene glycol,[20] isopropyl alcohol,[21] or perhaps even copious amounts of water.[22] Removal of contaminated clothing is required, as well as immediate hospital treatment for large splashes. This is particularly important if the phenol is mixed with chloroform (a commonly-used mixture in molecular biology for DNA & RNA purification from proteins).


Jika penguraiannya seperti di atas, maka pengaruh bagi manusia yang mengkonsumsi tergantung dari 3 senyawa hasil penguraian ini : Methanol, Asam Formiat dan Karbol.

Dari data yang berasal dari salah satu referensi di atas, senyawa Paraben ini bersifat Mutagen. Bersifat Mutagen artinya senyawa ini dapat mengakibatkan mutasi. Meski demikian, jenis mutasi apa memang tidak dijelaskan. Seperti kita ketahui, ada berbagai jenis mutasi seperti Mutasi Kromosom danm Mutasi Gen (Point Mutation).

Informasi toksikologi menunjukan bahwa senyawa ini memiliki LD50 pada pemberian oral pada hewan percobaan, tikus sebesar 2100 mg/kg. Informasi ini memberikan gambaran bahwa dengan pemberian per oral (melalui mulut) sebesar 2100 mg tiap kilogram berat badan, mengakibatkan 50 % tikus-tikus percobaan itu mati.

Untuk lebih mendapatkan gambaran yang jelas tentang senyawa ini, penulis sarankan untuk mencari bahan-bahan, referensi-referensi yang lengkap tentang senyawa ini. Sebelum jelas, ada baiknya kita tidak mengambil resiko, lebih baik sedia payung sebelum hujan.

Untuk membersihkan Berbagai Toksik dalam tubuh yang membahayakan, tersedia herbal alami, aman, halal dan manjur yang telah terbukti 5000 tahun dalam pengalaman empirik. bagi yang berminat, silakan hubungi kami.

Semoga informasi ini bermanfaat sebagai masukan.



Tidak ada komentar: